Showing posts with label tazkirah dari blog lain. Show all posts
Showing posts with label tazkirah dari blog lain. Show all posts

Sunday, October 4, 2009

Bintang Bercerita...

"segala Puji Dan Puja Hanya UntukMU Ya ALLAH"


ini adalah satu petikan yang bro jumpa...ya,,, Melihat bintang sebenarnya kita sedang melihat masa silam...

sekdar perkongsian di sebalik falsafah ini...

----------------------------------------------------------

Bintang yang Kita Lihat Kadaluarsa ???!!
Posted on Desember 3, 2008 by AA Afandi
Saat kita lihat suatu benda (misal: mobil n motor di jalan), artinya cahaya pantulan dari benda itu masuk n diterima mata kita.
Karena Kecepatan cahaya dalam sebuah vakum adalah 299.792.458 meter per detik (m/s), atau 1.079.252.848,8 kilometer per jam (km/h), atau 186.282.4 mil per detik (mil/s), atau lagi 670.616.629,38 mil per jam (mil/h) ….Wuiiih!
Maka, dengan kecepatan kaya gitu,,, si cahaya langsung wuuszh… dalam sekejap diterima mata kita.
Jadi, kita bisa langsung (saat itu juga!) lihat mobil atau motor saat di jalan.
PERNAH LIHAAAT BINTAAANNGGG…????

Nhaa…kalo kita lihat bintang (bintang di langit malam!!! bukan bintang film)!!
—– CERITANYA akan SAMA LAIN!!! —–
Karena Jarak antar benda di luar angkasa itu sangat jauh, (matahari masih “TERLALU” dekat ^_^) misal: diameter galaksi Milky Way (Bimasakti) 946.080.000.000.000.000 kilometer. Untuk permudah n persingkat penulisan, para astronom menulisnya dengan 100.000 tahun cahaya. Contoh lain, bintang terdekat dari Bumi, Proxima centauri jaraknya 40.000.000.000.000 kilometer, tapi mereka menulisnya 4,2 tahun cahaya.
Tahun cahaya merupakan jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun. Dalam satu detik, cahaya bergerak sejauh 299.792.458 m/detik (kita bulatkan jd 300.000 km/detik).
Dengan perhitungan matematis njlimet, dari nilai jarak bintang dan kecepatan cahaya bergerak……
Maka, didapat waktu tempuh cahaya bintang yg diperlukan untuk mencapai bumi n MATA KITA adalah 4,2279722645019448672416708946389 tahun…..Weladalaah!
Jadi, bintang Proxima centauri yang kita lihat adalah proxima centauri 4,2 tahun yang lalu. Karena cahaya proxima centauri melakukan perjalanan selama 4,2 tahun.
Jadiiii,,, CAHAYA BINTANG yang KITA LIHAT BUKAN CAHAYA BINTANG yang SEKARANG !!!…
Seperti memutar balik waktu,,, Kita benar-benar melihat masa lalu yg nyata!
sumber-sumbernya:
rachmawan.files.wordpress.com, wikipedia, yahoo! Answers.
DIarsipkan di bawah: Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kajian Umum

-------------------------------------------------------

Ini bermakna, kita sedang melihat sejarah setiap malam... Subhanallah...








Mencari Ketenangan Hakiki

Mencari Ketenangan Hakiki

Monday, February 16, 2009

untuk sang pembicara... diri dan jiwa...




usus manusia

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab Bad’i al-Khalq dalam sahihnya, beliau berkata;

 

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيلَ لِأُسَامَةَ لَوْ أَتَيْتَ فُلَانًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ دُونَ أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لَا أَكُونُ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ وَلَا أَقُولُ لِرَجُلٍ أَنْ كَانَ عَلَيَّ أَمِيرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا وَمَا سَمِعْتَهُ يَقُولُ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ

Ali menuturkan kepada kami, Sufyan menuturkan kepada kami dari al-A’masy dari Abu Wa’il dia berkata;ada orang yang berkata kepada Usamah, “Seandainya saja engkau mau mendatangi si fulan dan berbicara menasihatinya.” Maka dia menjawab, “Apakah menurut kalian aku tidak berbicara dengannya melainkan aku harus menceritakannya kepada kalian. Aku sudah menasihatinya secara rahasia. Aku tidak ingin membuka pintu yang menjadikan aku sebagai orang pertama yang membuka pintu fitnah itu -menasihati penguasa dengan terang-terangan-. Aku pun tidak akan mengatakan kepada seseorang sebagai orang yang terbaik -walaupun dia adalah pemimpinku- setelah aku mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Mereka bertanya, “Apa yang kamu dengar dari beliau itu?”. Dia menjawab; Aku mendengar beliau bersabda, “Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka dan terburailah isi perutnya di neraka sebagaimana seekor keledai yang berputar mengelilingi penggilingan. Maka berkumpullah para penduduk neraka di sekitarnya. Mereka bertanya, “Wahai fulan, apa yang terjadi padamu, bukankah dahulu kamu memerintahkan yang ma’ruf kepada kami dan melarang kami dari kemungkaran?”.

Lelaki itu menjawab, “Dahulu aku memerintahkan kalian mengerjakan yang ma’ruf sedangkan aku tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian dari kemungkaran namun aku justru melakukannya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ghundar dari Syu’bah dari al-A’masy (HR. Bukhari [3027] , disebutkan pula oleh Bukhari dalam Kitab al-Fitan [6569] as-Syamilah).

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Kitab az-Zuhd wa Raqa’iq di dalam sahihnya;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ قَالَ يَحْيَى وَإِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرُونَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قِيلَ لَهُ أَلَا تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ فَقَالَ أَتَرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ وَلَا أَقُولُ لِأَحَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ أَمِيرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَقَالَ رَجُلٌ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَدْخُلَ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ فِيمَا يَصْنَعُ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِهِ

Yahya bin Yahya, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numair, Ishaq bin Ibrahim dan Abu Kuraib -lafazh ini milik Abu Kuraib- menuturkan kepada kami, Yahya dan Ishaq berkata; memberitakan kepada kami, sedangkan periwayat lainnya mengatakan; menuturkan kepada kami Abu Mu’awiyah; al-A’masy menuturkan kepada kami dari Syaqiq dari Usamah bin Zaid, Syaqiq berkata; ditanyakan kepada Usamah, “Apakah engkau tidak menemui Utsman untuk berbicara dengannya?”.

Maka dia menjawab, “Apakah menurut kalian saya harus menceritakan kepada kalian kalau saya sudah berbicara dengannya. Demi Allah, saya sudah menasihatinya berdua saja, aku tidak ingin membuka pintu fitnah sehingga akan membuatku orang yang pertama kali membukanya. Aku juga tidak akan mengatakan kepada seseorang yang menjadi pemimpinku sebagai orang yang terbaik setelah aku mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat nanti kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka lalu isi perutnya terburai, lalu dia berputar-putar karenanya sebagaimana berputarnya keledai mengelilingi penggilingan. Maka berkumpullah para penduduk neraka melihatnya.

Mereka berkata, “Wahai fulan, apa yang menimpamu, bukankah engkau dahulu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar?”. Maka dia menjawab, “Benar, dahulu aku memang memerintahkan yang maruf tapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang yang mungkar namun aku justru melakukannya.” Utsman bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami; Jarir menuturkan kepada kami dari al-A’masy dari Abu Wa’il, dia berkata; Dulu ketika kami duduk-duduk bersama Usamah bin Zaid maka ada seseorang yang mengatakan, “Apa yang menghalangimu menemui Utsman dan berbicara dengannya atas apa yang telah dilakukannya..” kemudian dia membawakan isi hadits ini dengan isi yang sama (HR. Muslim [5305] as-Syamilah)

Pelajaran

Kedua-dua hadis di atas cukup untuk memberikan kita pelajaran yang sangat berharga tentang beberapa kewajipan yang berada di atas bahu seoarang muslim.

1. Kewajipan dakwah terhadap para penguasa bahkan yang kita fahami kewajipan ini juga tertakluk kepada semua manusia yang boleh kita kecapi dengan apa sahaja sarana. Dakwah menjadi asas kepada komunikasi di kalangan kaum Muslimin pada zaman lepas di mana mereka sangat memerhatikan sarana nasihat menasihati sesama mereka dalam pelbagai hal.

2. Berbuat apa yang di nasihati - Inilah akhlak para daie di jalan Allah. Mereka sentiasa iltizam dengan amal Islam dan berusaha menyeru masyarakat supaya berubah ke arah kesyumulan Islam. Para daie senantiasa berusaha untuk mempertingkatkan amal soleh mereka supaya rasa ingin dan cinta mereka kepada Allah sentiasa mekar. Sekulumit dosa dan maksiat sudah menjadi perkara yang keji dan terkutuk bagi mereka, apatah lagi berbuat ingkar terhadap suruhan Allah.

Bercakap kosong dan sekadar berceramah melampiaskan kata-kata bukanlah akhlak mereka.

3. Balasan terhadap orang-orang yang tidak berbuat kebaikan yang di canangkannya.






Free Signature Generator

Thursday, January 22, 2009

jendela hidayah

tazkirah ini bro petik  dari halaqah-online.com.

fikir dan kita tengok... dah berapa orang yang kita berjaya mengajak ke arah kemaksiatan. dan bandingkan dengan kita bawah kearah kebaikan....


Jadilah Penyebab Hidayah
PDFPrintE-mail
Written by avicenna   
Monday, 03 November 2008 15:43

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Maksudnya:

Sesiapa yang mengajak manusia ke jalan hidayah (kebenaran), dia akan memperolehi ganjarannya seperti ganjaran orang-orang yang mengikutinya. Tidak dikurangkan sedikit pun daripada ganjaran pahala mereka. Dan sesiapa yang mengajak manusia ke jalan kesesatan, maka dia akan memperolehi dosanya seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak dikurangkan sedikit pun daripada dosa mereka.

(Hadith riwayat Muslim – no.6980)

Dari Ustaz Ali Tantawi, Al-Ahkam.Net

Huraian:

  1. Konsep ganjaran dosa dan pahala adalah merupakan antara perkara asas dalam ajaran Islam. Keimanan kita kepada ganjaran sebegini akan menjadi benteng kukuh untuk menghalang manusia daripada melakukan perkara-perkara yang dimurkai Allah SWT.
  2. Konsep ganjaran pahala juga menjadi asas utama dalam membina jiwa muslim yang akan tetap terus mengamalkan perkara kebaikan walaupun tidak melihat ganjaran kebendaan di dunia ini.
  3. Kewajipan mengajak manusia kepada kebenaran adalah kewajipan seluruh umat dan sebaik-baik manusia yang menjalankan tanggungjawab ini adalah para Nabi dan Rasul ‘ a.s. Walaupun menerima tentangan dan cabaran, tugas itu tetap digalas berbekalkan slogan yang disebutkan di dalam Al-Quran, Surah Yunus ayat 72 yang bermaksud:

    "Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun dari padamu. upahku tidak lain hanyalah dari Allah, dan aku disuruh supaya aku termasuk dalam golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)".
  4. Telah menjadi lumrah alam yang diciptakan Allah SWT apabila adanya pendakwah atau orang yang menyeru kepada kebenaran, pasti akan ada segolongan pendakwah yang berlawanan iaitu orang yang menyeru kepada kesesatan dan mengajak manusia meninggalkan agama. Firman Allah SWT di dalam Al-Quran, surah al-Taghabun ayat 2 yang bermaksud:

    "Dialah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. "
  5. Rasulullah SAW menerangkan di dalam hadith yang ringkas ini bagaimana seseorang yang menjadi sebab kepada orang lain mendapat hidayah akan diberi ganjaran oleh Allah SWT. Ganjaran itu bukan sekadar ganjaran hasil dakwahnya, malah ganjaran itu ditambah pula dengan ganjaran hasil amalan orang yang menerima dakwahnya. Inilah rahmat Allah SWT terhadap seorang pendakwah yang menjadi penyebab kepada tersebarnya petunjuk dalam kalangan manusia. Namun, Allah SWT tidak akan mengurangkan ganjaran yang diperolehi oleh mereka yang beramal. Segalanya adalah adil dan saksama malah dilipat gandakan lagi oleh Allah SWT.
  6. Rasulullah SWT juga memberitahu bahawa Allah SWT menyediakan balasan dosa untuk orang yang mengajak orang lain melakukan perkara-perkara yang salah dan dilarang oleh Islam. Malah dosanya itu digandakan dengan dirinya juga menanggung dosa orang-orang yang disesatkannya. Inilah ganjaran setimpal kerana dirinya menjadi penyebab ramainya pelaku dosa. Namun begitu, dosa orang-orang itu tidak akan dikurangkan dan mereka semuanya akan menanggung dosa berdasarkan amalan masing-masing. Itulah keadilan Allah SWT.
  7. Marilah kita berusaha untuk menjadi penyebab kepada hidayah dengan apa cara sekalipun dan bukan pula penyebar kesesatan dan dosa. Kalau di dunia ini kita mahu keuntungan berlipat ganda dalam bentuk wang dan harta, maka sepatutnya kita juga mahukan keuntungan akhirat yang berlipat ganda dalam bentuk ganjaran pahala dan keredhaan Allah SWT.



Free Signature Generator

Free Signature Generator

2 medan perjuangan... dimanakah kita?

petikan dari SAIFULISLAM.COM.... petikan yang menyentuh jiwa ini... menimbulkan persoalan... dimana kita. jika dicari oleh para malaikat. di medan perang tiada, dimedan mendalami ilmu pun tiada dan terjumpa hanya lepak di kedai ketawa terbahak-bahak. tq ustaz... saya faham sekarang apa yang perlu saya lakukan. semoga saya istiqamah. dan sentiasa tidak lari dan tertinggal dari 2 medan jihad ini. jihad qital dan juga jihad dakwah...
lemahnya diri ini... semoga pembaca dapat mencari dimana kita. ada tak di antara dua medan perjuangan ini

“Anta tidak ke al-Masjid al-Aqsa?” tanya teman di sisi.

Tepu dada saya mendengar soalan itu.

Membendung perasaan untuk menjenguk ziarah ke Kiblat pertamaku, untuk menyusul jejak-jejak Isra’ dan Mi’raj yang agung itu, untuk menjamah barakah Tanah Haram ketiga itu. Masakan diri ini tidak kepingin untuk ke sana.

“Jangan ditanya keinginan hati. Jawapannya pasti. Tetapi ana menghormati fatwamasyaikh kita”, saya membalas lesu.

“Fatwa yang mana?” sahabat saya kurang pasti.

“Haram melawat al-Masjid al-Aqsa kecuali dengan maksud jihad membebaskannya“, saya menjawab.

“Oh ya. Ana pun ada mendengarnya. Apa alasan fatwa itu?” tanyanya lagi.

“Lawatan sebagai pelancong ke al-Masjid al-Aqsa yang terjajah, mustahil berlaku kecuali kita meminta visa dan izin dari kerajaan regim Haram Zionis itu. Setiapapplication untuk ke Palestin adalah pengiktirafan kita kepada ketuanan Yahudi yang sedang menjajahnya. Malah setiap permohonan yang dicas USD100 itu menjadi sumber pendapatan kerajaan Zionis”, saya berkongsi apa yang saya tahu.

“Benar…!” teman saya menyapa perlahan.

Di era 90′an itu, ramai Ulama’ di bumi Syam yang memfatwakan haram ke atas aktiviti ziarah dan pelancongan ke al-Quds. Biar pun segelintir rakyat Malaysia masih aktif transit di Amman sekembalinya mereka dari Umrah, lalu menyambung perjalanan ke al-Quds melalui agensi-agensi pelancongan, kami yang bertamu sebagai penuntut ilmu di Dataran Syam ini, tidak berdaya untuk menyanggah fatwa ini. Al-Quds hanya beberapa puluh kilometer dari penempatan kami, namun untuk ke sana…. tidak mungkin.

Al-Quds bukan untuk diziarahi dalam mood pelancongan.

Ia menanti pembebasan!

gaza

ANGIN PALESTIN

Petang itu kami termenung di tembok Kota Karak. Kota yang pernah menyaksikan kegagahan Salahuddin al-Ayyubi menyanggah Tentera Salib dan membersihkan bumi Palestin.

Sayup-sayup di bawah sana, samar kebiruan Laut Mati terbentang penuh misteri. Di seberangnya… terhampar bumi Palestin, bumi yang menghiris setiap sendi dan tulang temulang diri ini.

“Iskkk!!!” saya tersesak nafas seketika.

“Kenapa?” tanya teman di sisi.

“Angin ini terhembus dari arah sana. Dari Palestin”, saya terus menarik nafas dalam-dalam. Mahu menjamah barakah al-Masjid al-Aqsa, biar pun hanya pada sapaan angin sepoi-sepoi bahasa senja Dataran Syam.

Saya belajar di Universiti Mu’tah. Universiti yang dibina di sisi Medan Mu’tah, tempat bermandinya darah Syuhada’ yang mempertahankan Islam pada tahun ke-8H. Biar pun peristiwa itu sudah lebih 1000 tahun berlalu, semangatnya masih panas membakar jiwa kami, Tetamu Dataran Syam di Medan ini.

Di tengah-tengah simpang empat berhampiran Masjid Syuhada, bulatannya masih terhias dengan replika sebuah peluru berpandu. Muncungnya dihalakan ke bumi Palestin. Mewakili azam dan keinginan penduduk untuk merempuh musnah kezaliman regim Zionis yang menjajah di seberang sempadan. Tidak jauh… hanya sekadar 30km sahaja.

KISAH MARWAN

Kami tidak lupa kepada kisah Marwan… anak muda dari University of Jordan yang mengisi cuti semesternya dengan jihad di bumi Palestin.

Marwan gugur…

Syahid fi sabilillaah!

Wajahnya menghiasi universiti kami. Anak muda yang bersih muka dan jiwa, tidak berlengah membawa pulang diri sebagai pelarian Palestin yang menumpang di kem muhajirin di Jordan, pulang dengan semangat dan azam untuk menebus tanah air yang dibelenggu Yahudi Zionis. Nasyid Marwan fi Sabilillah (Allahu Akbar Soihati) dimuatkan di dalam album Li’uyooni al-Qudsi Nughanni, mengabadikan kisah anak muda ini.

Anak muda seperti kami, terangsang tinggi dengan kisah Marwan. Rasa terhina diri ketinggalan di belakang jalan yang disusuri. Tidak mahu keciciran, bahawa tidak sama manusia yang duduk dengan yang berdiri, dan memacu jihad pembebasan mengorbankan diri.

Saya sering ke Kota Karak.

Sesekali ke pinggir Laut Mati.

Ada masanya ke bukit tinggi di kota Madaba.

Semata-mata mahu menjenguk pemandangan bumi Palestin. Bumi Tin dan bumi Zaitun. Bumi Ibrahim, bumi Ishaq dan bumi Yaaqub. Bumi Sulaiman dan bumi persinggahan sekalian Anbiya’ yang diutuskan. Bumi Isra’ dan bumi Imam Syafi’e, bumi penuh barakah yang terkurung bertembokkan sebuah penjajahan.

KEWAJARAN

Biar pun semangat jihad membakar ulas-ulas jiwa dan raga, saya tidak lupa kepada pesanan Allah Tuhan yang Esa:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat berjaga-jaga.” [al-Taubah 9: 122]

Allah SWT memerintahkan jihad. Namun tidak bijak untuk semuanya turun nafar ke medan Qital.

Biar sebesar mana pun delegasi jihad menyahut seruan, mestilah ada sekumpulan kaum mu’minin yang mengkhususkan diri mereka dalam tafaqquh mendalami al-Deen.

Sekumpulan ke medan perang.

Sekumpulan menuntut ilmu.

Sekumpulan memikul tugasan menjaga kebajikan dan urusan kaum mu’min.

Tiga kumpulan ini sentiasa memikul tugasan yang sama keutamaan. Tugasan yang bersinergi untuk kelangsungan usaha meninggikan agama. Dan setiap kita mesti berada di dalam lingkungan salah satu dari tiga kumpulan itu.

Ketika Marwan memilih untuk turun ke medan Qital, medan jihadku adalah pada mendalami agama, pulang ke kaumku dan mengajar mereka hakikat pertempuran ini, bahawa YAHUDI REALITI tidak mungkin dikalahkan oleh MUSLIM ILUSI.

9_122e

“(Agar dengan peringatan ini), kaumku akan beringat-ingat!”

ABU SAIF @ www.saifulislam.com
68000 AMPANG, SELANGOR




Free Signature Generator

Free Signature Generator


Thursday, January 15, 2009

muslim ilusi dan yahudi realiti


Menjawab persoalan mengapa umat islam tidak dapat berbuat apa-apa dikala pengganasan yahudi berleluasa, saya teringat kepada apa yang telah diungkapkan oleh Abu al-Hasan Ali al-Nadawi di dalam bukunya Ila al-Islam Min Jadeed (Kembali Semula Kepada Islam). Di bawah tajuk “Antara Ilusi dan Realiti” (Bayna al-Soorah wa al-Haqiqah), al-Nadwi telah memberikan suatu analogi yang sangat baik untuk difikirkan bersama.

Al-Nadwi membayangkan bagaimana seorang pemimpin hebat yang telah mati, dikenang oleh pengikutnya dengan membina sebuah patung yang besar dan amat menyerupai rupa pemimpin itu semasa hayatnya. Tetapi pada suatu hari, seekor burung datang bertenggek di atas hidung “pemimpin”tersebut dan melepaskan najisnya. Patung yang besar dan gagah itu tidak mampu berbuat apa-apa terhadap burung yang kecil itu, walaupun di kaki patung itu terpahat nama seorang pemimpin yang semasa hidupnya digeruni kawan dan lawan.

Mengapakah keadaan itu boleh berlaku? Mengapakah pemimpin yang hebat itu terhina hanya oleh perilaku seekor burung yang kecil?

Al-Nadawi mengulas analogi ini dengan mengemukakan konsep ilusi versus realiti.

Patung itu walaupun besar, gagah dan hebat, malah mewakili peribadi seorang pemimpin yang agung semasa hidupnya, adalah hanya “seorang patung”. Ia hanya sebuah gambaran. Sebuah ilusi. Manakala burung tersebut, walaupun kecil dari segi saiznya, ia adalah burung yang hidup. Burung itu walaupun kecil, namun ia adalah realiti.

Sunnatullah telah menetapkan bahawa realiti sentiasa mengalahkan ilusi.

Beginilah perihalnya kita ketika berhadapan dengan musuh.

Jika kita membuka lembaran al-Quran dan mengkaji tentang Yahudi, maka kita akan dapati bahawa keterangan al-Quran tentang karakter Yahudi amat selaras. Kelakuan penakut mereka yang hanya membolehkan mereka menyerang di sebalik tembok, sifat takabbur, dendam kesumat terhadap orang-orang yang beriman, semuanya menepati realiti. Maka orang-orang Yahudi hari ini adalah orang Yahudi sejati. Pertembungan kita dengan Yahudi adalah pertembungan kita dengan sebuah realiti.

Jika kita membaca al-Quran dan meneliti ayat-ayat tentang Nasrani, kita akan dapati bahawa orang-orang Kristian hari ini amat menepati watak mereka seperti yang digambarkan oleh al-Quran. Maka orang-orang Kristian hari ini adalah orang Nasrani sejati. Mereka adalah realiti. Pertembungan kita terhadap mereka adalah pertembungan kita dengan sebuah realiti.

Namun, jika kita amati keterangan al-Quran tentang ciri-ciri orang Islam dan Mukmin, apakah hasil pengamatan kita itu?

Al-Quran menjelaskan bahawa orang-orang Mukmin itu bersaudara. Al-Quran juga menjelaskan bahawa orang Mukmin itu saling menjadi pembantu kepada Mukmin yang lain. Orang Mukmin bersatu padu berpegang dengan tali Allah, mereka tidak berpecah belah ketika mendirikan agama, mereka pengasih sesama mereka dan keras terhadap Kuffar dan pelbagai lagi senarai ciri Mukmin yang diterangkan oleh al-Quran.

Namun, perhatikanlah realiti umat Islam hari ini. Berapakah jarak di antara diri idaman mereka seperti yang digambarkan al-Quran, dengan diri sebenar mereka di dalam realiti kehidupan?

Muslim ilusi berdepan dengan Nasrani realiti.

Muslim ilusi berdepan dengan Yahudi realiti.

Realiti sentiasa mengalahkan ilusi.

Ramainya kita hanyalah sebuah ilusi. Hakikatnya kita sedikit, dan jumlah itu semakin sedikit apabila saudara-saudara kita berbondong-bondong murtad meninggalkan kita.

Kayanya kita hanyalah sebuah ilusi. Hakikatnya kita miskin. Kita miskin jiwa, miskin daya juang dan kemiskinan itu semakin miskin apabila saudara-saudara kita tidak mampu mengawal jual beli harta mereka sendiri yang selama ini mengkayakan musuh.

Cerdiknya kita hanyalah sebuah ilusi. Hakikatnya kita bodoh. Kita masih dibelenggu oleh persoalan-persoalan yang bodoh dan tidak langsung menghasilkan sebarang hasil. Kebodohan kita menjadi semakin bodoh apabila kita tenggelam dalam tajuk-tajuk debat sesama kita yang langsung tidak menggambarkan yang kita sedang berada di medan perang.

Bersatunya kita hanyalah sebuah ilusi. Hakikatnya kita berpecah. Hati-hati kita terlalu mudah untuk diungkaikan ikatannya. Penyakit hati kita sangat menjijikkan. Berpecah belah hanya kerana secawan kopi. Pecah belah rumahtangga, pecah belah jiran tetangga, pecah belah masyarakat sedesa, pecah belah antara negara, perpecahan kita dari hujung daun hingga ke akar umbi.

Ya, jika al-Quran yang menjadi pengukurnya, maka Yahudi di Palestin itu adalah realiti. Nasrani di Rumah Putih itu adalah realiti. Namun umat Islam yang mengelilingi Rumah Hitam di Masjidil Haram itu hanyalah ilusi. Dan ilusi akan terus dikalahkan oleh realiti.

Selagi kita tidak berusaha untuk membentuk diri menjadi Mukmin sejati, selagi itulah kita tidak akan diizinkan oleh Allah untuk melihat pembebasan Palestin dan Masjidil Aqsa.

Tragedi di Gaza adalah seruan Allah untuk kita kembali kepada Islam.

Islam yang tulen.

Ibu bapa didiklah anak menjadi Muslim, jangan dibiarkan mereka menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Kenalkan kepada anak-anak kita apa itu Islam dan apa itu Jahiliyyah. Fahamkan mereka siapa Yahudi dan Nasrani dan mengapa mereka dikutuk Allah. Ajarlah anak-anak mencintai kebenaran, keadilan dan memusuhi kezaliman. Agar dengan jiwa tulen seorang putera Muslim dan puteri Muslimah, Yahudi tulen akan dikalahkan oleh Muslim tulen.


Dipetik dari artikel : Khutbah Palestin Memanggil Kamu Pulang Kepada Islam

Saifulislam.com




Free Signature Generator

Free Signature Generator